KISAH KLAN OTORI 1 PDF

Versi terjemahannya baru diterbitin oleh penerbit Matahati sampe buku yang kedua. Meskipun banyak pecinta buku yang suka antipati ama novel terjemahan, mending baca versi asli katanya, aku nggak terlalu peduli. Masalahnya yang terjemahan itu pasti lebih murah, soalnya kalo aku lagi kalap bisa langsung beli 5 novel sekaligus entah bacanya kapan, itu urusan nanti :D. Jadi hubungannya ama budget emang : Dan lagi kalo sampe diterjemahin gitu kan mestinya lumayan bagus. Jadi nggak terlalu harus berspekulasi. Meskipun nggak mesti juga sih :D Waktu buku pertamanya terbit beberapa bulan yang lalu, Across the Nightingale Floor, rada males mo beli.

Author:Dubei Tojalrajas
Country:Martinique
Language:English (Spanish)
Genre:Software
Published (Last):27 March 2011
Pages:75
PDF File Size:11.55 Mb
ePub File Size:9.40 Mb
ISBN:872-1-62540-278-4
Downloads:5610
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Kagara



Download Lengkap Ebook Kisah Klan Otori Category: Books Author: Lian Hearn Across the Nightingale Floor Nightingale Floor adalah nama untuk sejenis lantai yang dibuat dari kayu dengan teknik pembuatan sedemikian rupa sehingga kalo orang berjalan di atasnya pasti akan menimbulkan bunyi berdecit- decit mirip kicauan burung Nightingale alias burung bulbul. Yang keisengan masang lantai ini di sekeliling rumahnya adalah Lord Iida Sadamu, pemimpin Klan Tohan. Setelah perang Yaegahara, klan Tohan berhasil menguasai hampir seluruh wilayah Tiga Negara.

Kekuasaan yang direbutnya secara paksa melalui perang itu jelas memunculkan banyak musuh yang menginginkan kematiannya. Dengan terpasangnya lantai bulbul itu, dia berharap bisa lebih nyenyak tidur di malam hari, karena tidak akan ada orang yang berniat buruk terhadap dirinya yang bisa mengendap2 memasuki kamarnya tanpa menimbulkan suara. Selain menundukkan klan2 pesaingnya, Iida Sadamu juga berusaha melenyapkan satu kelompok masyarakat yang disebut kaum Hidden.

Kaum Hidden ini sebenarnya sama sekali tidak bermusuhan dengan klan manapun. Tapi karena kepercayaannya akan agama yang hanya memiliki satu Tuhan dan tidak adanya kelas2 dalam masyarakat dianggap mengancam para ksatria, maka Iida merasa perlu melenyapkan kaum ini dan kepercayaannya.

Salah satu aksinya adalah membumi-hanguskan suatu desa di Mino yang dihuni kaum Hidden. Desa itu pun luluh lantak. Seluruh penduduk tewas. Kecuali seorang anak berusia belasan tahun yang kebetulan sedang berada di hutan. Anak ini sempat mempermalukan Iida Sadamu dan segera melarikan diri. Ia lantas diberi nama Takeo dan diangkat sebagai anak. Takeo dididik sebagaimana layaknya anak ksatria. Dalam pelatihan2nya, Takeo menemukan kalo dirinya memiliki kemampuan supranatural yang tidak dimiliki orang biasa.

Pendengarannya setajam anjing hingga bisa mendengarkan suara2 dari kejauhan. Ia juga mampu memunculkan bayangan sosok kedua untuk mengelabui lawan, dan mampu menidurkan anjing dengan tatapan mata. Yang memiliki kemampuan semacam itu biasanya adalah keturunan kaum Tribe, para pembunuh bayaran. Lord Iida Sadamu yang sangat berkuasa, berniat membangun persekutuan dengan klan Otori dengan menikahkan Lord Otori Shigeru dengan Lady Shirakawa Kaede, dari klan Shirakawa yang telah tunduk kepada klan Tohan.

Grass for His Pillow Buku kedua ini berkisah tentang sepasang muda-mudi yang baru berusia belasan tahun Takeo dan Kaede yang pernah jadi calon istri Lord Otori Shigeru. Kedua orang ini di buku pertama saling tertarik dan jatuh cinta pada pandangan pertama. Tapi mereka tidak bisa bersatu begitu saja. Takeo diculik oleh kaum Tribe yang merasa berhak untuk memanfaatkan kemampuan Takeo yang memang keturunan Tribe.

Dan setelah dia resmi diangkat sebagai anak, dia adalah pewaris sah dari kepemimpinan Klan Otori. Kaede sendiri adalah pewaris sah kepemimpinan Klan Shirakawa. Selain itu juga mendapat amanat mewarisi kepemimpinan Klan Maruyama dari kerabat dekatnya. Padahal sejak kecil dia ditahan di kastil oleh orang Tohan hingga saat dia akan dinikahkan, tanpa mendapat didikan apapun sebagai bekal untuk memimpin Klan-nya. Kaede-pun berusaha mengejar ketertinggalannya. Di usia yang masih sangat muda, dia harus berpikiran dewasa untuk memimpin klannya.

Tentu saja banyak yang meremehkan dan menolak kepemimpinan seorang wanita, tapi Kaede mengeraskan hati untuk meraih apa yang seharusnya ia raih. Walaupun setiap saat dia dilanda kerinduan kepada Takeo, yang ia tak tahu keberadaannya.

Buku kedua memang nggak terlalu seru dibanding buku pertama. Nggak terlalu banyak pertempuran. Lebih banyak ngobrol :D Tapi semua itu mestinya adalah meletakkan elemen2 yang akan membangun buku ketiga. Takeo dan Kaede sedang mempersiapkan kekuatan untuk menyatukan wilayah yang menjadi hak mereka. Mungkin itulah makna dari judul buku kedua ini.

Menyiapkan jerami untuk bantal kekuasaan kelak. Arai pun otomatis menjadi penguasa Tiga Negara. Takeo yang sangat diharapkan untuk bersekutu dengan Arai, malah menghilang karena diculik Tribe. Arai merasa diabaikan oleh Takeo Ini semua adalah bagian dari buku kedua, ditulis disini biar nyambung sama buku ketiga. Arai semakin gusar ketika mendengar Takeo menikahi Kaede di biara Terayama tanpa seijinnya. Sementara Takeo sendiri sedang dikejar2 oleh orang2 Otori yang tidak menghendaki klan Otori dipimpin oleh Takeo.

Setelah menikah Takeo dan Kaede pergi ke Maruyama untuk mengambil kekuasaan klan Maruyama yang diwariskan kepada Kaede. Melalui pertempuran di Asagawa dengan pasukan pimpinan Iida Nariaki yang juga merasa berhak memimpin Maruyama, Kaede akhirnya bisa duduk sebagai pimpinan klan Maruyama.

Selanjutnya Takeo mempersiapkan penyerbuan ke Hagi, ibukota kekuasaan klan Otori, untuk merebut kekuasaan atas klan Otori. Tapi sebelum Takeo menuntaskan semua persiapan, Kaede yang pergi menengok rumahnya di Shirakawa disandera oleh Lord Fujiwara yang didukung penuh oleh Arai. Dan pasukan Arai yang sangat besar juga telah siap untuk segera menundukkan Takeo dan pasukannya. Sarat dengan pertempuran dan pertumpahan darah. Sebagaimana ramalan seorang perempuan pertapa yang mengatakan bahwa Takeo akan menghadapi lima peperangan dalam perjalanan mewujudkan cita2nya.

Kehidupan Jaman Feodal Baca novel ini rasanya dibawa masuk ke masa2 pemerintahan feodal. Para bangsawan dan ksatria merasa dirinya sebagai kelas tertinggi yang boleh berbuat apa saja terhadap rakyat jelata.

Petani dan nelayan adalah manusia kelas rendahan yang tidak terlalu perlu dihiraukan. Apalagi mereka yang masuk kelas gelandangan. Tapi menjadi bangsawan juga tidak sepenuhnya enak. Intrik perebutan kekuasaan menjadi bagian dari kehidupan mereka, dengan ancaman resiko kematian setiap saat.

Sementara menjadi ksatria, jelas harus juga siap mati setiap saat dalam memperjuangkan kekuasaan sang bangsawan yang ia dukung.

Dalam masa saling berebut kekuasaan seperti itu, kehidupan menjadi sangat rapuh. Mati kayaknya gampang banget. Prajurit dan bangsawan yang jago perang itu enak aja menebas kepala orang yang membangkang, membakar perkampungan lawan, menyiksa musuh sampai mati. Di lain pihak juga ada budaya harakiri alias bunuh diri jika merasa harga dirinya sudah lenyap dan tak pantas hidup lagi. Hidup mereka seperti sekedar bertahan hidup menunggu mati saja, sambil tetap berusaha menjaga kehormatan dan nama baik.

Dan sebagaimana umumnya gaya penguasa feodal, wanita selalu berada di posisi yang lebih rendah. Wanita menjadi bidak yang diatur dan dimainkan penguasanya.

Bahkan Kaede maupun Naomi Murayama yang menjadi pemimpin klan tidak bisa terlepas dari pengekangan semacam itu. Meskipun mereka punya kemampuan untuk bertempur tapi mereka tetap bertindak layaknya wanita lemah yang tidak berdaya melawan dominasi kekuasaan pria.

Unsur Jepang Beberapa orang bilang kalo novel ini kurang "Jepang". Memang penulisnya bukan orang Jepang sih, orang Inggris. Dan dia cuma sempat beberapa bulan saja berada di Jepang. Latar-belakang Jepang dia bangun sendiri berdasarkan data-data yang ada dan dari narasumber orang2 Jepang.

Ya gimana nggak ilang rasa Jepangnya, kalo tokoh2nya dipanggil dengan gelar "Lady" dan "Lord" yang jelas Inggris banget di versi terjemahan juga tetap digunakan "Lady" dan "Lord". Istilah2 Jepang juga sangat jarang dipake. Hampir semuanya sudah dialih-bahasakan ke bahasa inggris lalu ke bahasa indonesia. Kecuali beberapa nama benda yang memang tidak ada padanannya.

Jadi jangan harap bakal bisa sekalian belajar bahasa Jepang, seperti kalo lagi baca Kho Ping Hoo bisa sekalian belajar bahasa mandarin ala kangouw :D Detil, Indah, dan Dalam Meskipun begitu, di sisi lain, penulis berhasil menciptakan suasana setting yang sesuai dengan imajinasi Jepang kuno dengan cukup detil.

Aku sih patokan yang paling gampang ya, mbayangin settingnya Oshin :D Kaede aku bayangin sebagaimana Oshin remaja. Cantik, putih, lemah lembut, tampak rapuh tapi bisa berperilaku keras saat dibutuhkan. Bahasanya cukup indah berbunga-bunga saat melukiskan suasana alam, dari warna bunga, bebauannya, hingga suara2 yang terdengar.

Semua dituturkan dengan detail. Bagi yang suka dengan gambaran romantis alam seperti itu akan memberikan suasana yang puitis selama membacanya. Tapi bagi yang tidak nggak bakalan, ya bakalan merasa dihambat kelancarannya membaca.

Penggambaran Jepang kuno yang sangat feodal juga kena banget hingga ke detil2nya. Setiap kali ada adegan pertemuan dengan bangsawan, sang tamu selalu digambarkan membungkukkan badan hingga keningnya menyentuh lantai. Dan baru akan mengangkat tubuhnya setelah dipersilakan oleh tuan rumah. Bertatapan mata tidak boleh sembarang dilakukan. Pembicaraan antar bangsawan juga digambarkan sangat penuh basa-basi dan penuh kepura-puraan. Priyayi abis deh Penuh konflik tapi berjalan pelan.

Untungnya nggak sampe jatuh jadi membosankan buat aku. Tetap menarik, rasanya jadi seperti hanyut dalam kontemplasi tokoh utamanya. Full Intrik Namanya kisah tentang para ksatria pastilah isinya tentang intrik perebutan kekuasaan.

Begitu juga novel ini. Ada 5 klan besar yang berebut kekuasaan. Kemudian muncul klan Arai pecahan dari klan Sheisuu. Ada yang saling bersekutu, ada yang musuh bebuyutan, ada yang telah tunduk menyerah ke klan yang lain tapi tetap menyimpan dendam.

Di luar itu ada yang namanya kaum Tribe. Mereka adalah orang2 yang secara alami memiliki kemampuan supranatural. Tapi tidak memihak salah satu klan. Mereka adalah orang bayaran yang bersedia diperintah para penguasa asalkan mendapatkan imbalan.

DELIZIE CONTENTE PDF

Across the Nightingale Floor

The Harsh Cry of the Heron [ edit ] Sixteen years later, Takeo is ruler of the Three Countries, and has three daughters: Shigeko, and twins Maya and Miki the latter two have inherited tribal skills from their Kikuta bloodline. Hisao was raised by Akio, and is a ghostmaster, able to communicate with the dead, including his dead mother. After Muto Kenji dies, the loyalty of the Tribe clans to Takeo starts to wane. Now against Takeo, she destroys the castle at Hagi, and seeks sanctuary with Arai and Hana. Takeo seeks sanctuary at Terayama, where he is attacked by Akio and Hisao. At the crucial moment Hisao freezes; Akio takes the gun, which explodes in his hands, killing himself and fatally wounding Maya.

ELCB MITSUBISHI PDF

Tales of the Otori

Download Lengkap Ebook Kisah Klan Otori Category: Books Author: Lian Hearn Across the Nightingale Floor Nightingale Floor adalah nama untuk sejenis lantai yang dibuat dari kayu dengan teknik pembuatan sedemikian rupa sehingga kalo orang berjalan di atasnya pasti akan menimbulkan bunyi berdecit- decit mirip kicauan burung Nightingale alias burung bulbul. Yang keisengan masang lantai ini di sekeliling rumahnya adalah Lord Iida Sadamu, pemimpin Klan Tohan. Setelah perang Yaegahara, klan Tohan berhasil menguasai hampir seluruh wilayah Tiga Negara. Kekuasaan yang direbutnya secara paksa melalui perang itu jelas memunculkan banyak musuh yang menginginkan kematiannya.

Related Articles