KALILAH WA DIMNAH PDF

Votes No votes so far! Be the first to rate this post. Tags: Animals - Education - Literature - Manuscripts - Paul Lunde - One of the most popular books ever written is the book the Arabs know as Kalila wa-Dimna, a bestseller for almost two thousand years, and a book still read with pleasure all over the world. It has been translated at least times into 50 different languages.

Author:Akigore Tojakazahn
Country:United Arab Emirates
Language:English (Spanish)
Genre:Software
Published (Last):19 December 2011
Pages:442
PDF File Size:19.46 Mb
ePub File Size:19.99 Mb
ISBN:829-1-96774-216-7
Downloads:61590
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Vim



Ag Dalam kehidupan manusia, kisah-kisah menempati posisi yang unik. Kisah tidak hanya mencerminkan fakta yag terjadi dalam kehidupan manusia tetapi juga mengkomunikasikan tentang sesuatu tentang mereka, pengalaman mereka, persepsi mereka serta pandangan mereka tentang dunia ini.

Bahkan, akhir kehidupan mereka adalah kisah yang akan menjadi cerita bagi generasi berikutnya. Kisah, cerita, ataupun sebagian orang menyamakannya dengan dongeng, menjadi peralatan yang cukup ampuh dalam rangka mengajak orang untuk mengikuti nilai tertentu. Dengan kisah orang tidak merasa digurui untuk mengikuti sebuah nilai, terutama sekali nilai-nilai religius.

Pentingnya kisah dalam wacana pendidikan sufi melahirkan mutiara-mutiara kisah yang tak terkira jumlahnya. Pendahuluan Kisah adalah gambaran dan reflekasi kehidupan umat manusia. Inilah yang melatarbelakangi munculnya beragam kisah sepanjang perjalana kehidupan manusia dan peradaban yang mereka bangun. Baydaba —seorang filsuf agung India- telah membuat sebuah karya yang ditujukan kepada Raja Dabysyalim seorang raja India yang ditaklukan Iskandar Agung pada SM.

Kisah ini menggemakan nilai etis-moral dan religiusitas bagi masyarakat dengan menggunakan model fabel kehidupan binatang yang dipakai sebagai kiasan untuk mendidik masyarakat agar tulisannya mudah dicerna oleh dan dipahami oleh siapa saja yang membaca. Komposisi karyanya dibuat dengan cerita berbingkai yang bersifat didaktis. Diantara empat belas bab yang ditulis ada yang diberi judul Kalilah dan Dimnah yang merupakan kisah fabel yang sengaja guna menjadi tamsil dan perumpamaan kehidupan manusia, agar mudah dipahami khalayak umum dan bisa dicerna semua kalangan serta menjadi kajian yang menarik bagi mereka yang merenungkannya.

Nama tokoh dalam kisah ini kemudian dijadikan sebutan untuk menamakan karya monumental ini. Dalam karya Kalilah dan Dimnah, Baydaba memulai pembahasannya tentang jalinan persahabatan dua kawan karib dan bagaimana keduanya mulai membangun persahabatan.

Juga bagaimana persahabatan tersebut bisa menjadi putus akibat ulah pihak ketiga yang hipokrit. Dengan menggunakan perilaku binatang, tidak akan ada orang yang tersinggung.

Dengan begitu bisa diperoleh dua target sekaligus, orang umum akan bisa mudah memahami dan orang cendikia akan bisa menajamkan pikirannya untuk merenungkan. Kalilah dan Dimnah telah diterjemahkan ke berbagai bahasa semenjak masa silam, tidak terkecuali ke bahasa Melayu. Penterjemahan kitab Kalilah dan Dimnah dalam bahasa melayu dilakukan di Algemeen Secretari sebuah lembaga ilmu pengetahuan Belanda di Batavia pada abad Naskah ini berjudul Hikajat Kaleyla dan Damiena dan disimpan di sana.

Akan tetapi, jika diperhatikan jalan cerita yang telah diterjemahkan, terdapat beberapa perobahan dari teks aslinya. Ada beberapa hal yang dikurangi dan ditambah oleh sang penterjemah, sekalipun ending ceritanya tetap sama. Pengurangan dan penambahan alur cerita tersebut agaknya memiliki keterkaitan dengan situasi politik dan sosial di mana sang penterjemah hidup.

Naskah terjemahan hikayat Kalilah dan Dimnah tersebut semakin nampak perbedaannya jika dibandingan dengan terjemahan yang muncul belakangan.

Oleh karena itullah, penulis mengajukan proposal penelitian dengan judul; Hikayat Kalilah dan Dimnah Kajian Filologis dengan analisis tekstual dan kontekstual. Adapun rumusan masalah dari penelitian ini adalah Bagaimana bunyi teks kalilah dan Dimnah dan suntingan teksnya, dan Bagaimana keterkaitan situasi poilitik dan sosial terhadap peterjemahan naskah hikayat Kalilah dan Dimnah?

Kemudian, Apa pesan moral yang hendak disampaikan oleh penterjemah hikayat Kalilah dan Dimnah? Mengingat begitu banyaknya cerita yang di tuangkan dalam hikayat Kalilah dan Dimnah, maka penulis membatasi penelitian pada satu kisah saja, yaitu cerita kera dan kura-kura.

Kisah kera dan kua-kura merupakan kreatifitas dan tambahan sang penterjemah. Di samping, cerita ini adalah cerita yang paling dikenal penulis. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian yang berlaku dalam filologi dengan tahapan dan metode sebagai berikut: Tahap pertama pengumpulan data berupa inventarisasi naskah.

Pengumpulan data tersebut dilakukan dengan studi pustaka. Studi pustaka dilakukan untuk mengumpulkan informasi yang berhubungan dengan naskah kalilah dan Dimnah.

Tahap kedua pengolahan data dengan menggunakan metode deskriptif. Naskah Kalilah dan Dimnah yang ada, dideskripsikan dengan pola yang sama, seperti judul naskah, nomor naskah, asal naskah, ukuran naskah, ukuran teks, keadaan naskah, tebal naskah, jumlah halaman, jumlah baris tiap halaman, bentuk karangan, umur naskah, bahasa naskah, dan ringkasan isi.

Pendeskripsian ini dilakukan untuk memudahkan tahap penelitian selanjutnya berupa pertimbangan recensio dan perbandingan naskah. Tahap ketiga perbandingan naskah dengan teks aslinya dalam bahasa Arab.

Perbandingan naskah meliputi perbandingan kalimat dan penggunaan kata-kata antara naskah yang merupakan terjemahan dengan teks aslinya dalam bahasa Arab untuk mengetahui beberapa bentuk perubahan yang dilakukan oleh penterjemah. Dalam hal ini, penulis malakukan transkripsi dari huruf Arab-Melayu ke dalam aksara latin. Ia menyisipkan cerita-cerita berbingkai di dalam karya tersebut. Setelah karya ini selesai dibuat selama beberapa kurun waktu.

Baginda raja Dabsyalim bermaksud memberi penghargaan terhadapnya namun ia menolak untuk menerima imbalan tersebut. Namun permintaannya kepada sang raja adalah agar sang raja bisa menjaga dan menyimpan dengan baik kitab karyanya tersebut agar tidak ada yang mengambilnya.

Ia mendengar bahwa di India ada karya Kalilah dan Dimnah yang terkenal atau masyhur. Karena Ia adalah orang termasuk suka terhadap ilmu pengetahuan maka timbul dalam hatinya berambisi untuk memilikinya. Akhirnya Ia memerintahkan Barzawy untuk pergi ke India, mengambil dan membawa kitab itu ke hadapannya. Rencananya itu berhasil. Barzawy dapat membawa manuskrip itu kepada raja dan menerjemahkannya ke dalam bahasa Persia atau bahasa Pahlewi.

Kitab ini ditulis berdasarkan teks sansekerta berjudul pancatranta. Teks aslinya, pertama kali diterjemahkan ke dalam Bahasa Tibet. Teks asli dalam bahasa Sanskrit hilang dan tidak pernah diketemukan. Dan kemudian teks dalam bahasa Tibet pun juga hilang. Yang dijumpai adalah teks yang terdiri dari lima bagian yang disebut pancatranta, padahal sebelumnya terdiri dari tujuh bagian. Teks yang tidak lengkap inilah yang kemudian banyak diterjemahkan ke dalam bahasa India. Dikatakan dalam sejarahnya bahwa Kalilah dan Dimnah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, ada yang menerjemahkan dalam bahasa Tibet, bahasa Parsi, bahasa Suryani, dan bahasa Arab.

Terjemahan-terjemahannya sebagai berikut: 1. Terjemahan ke Bahasa Tibet 2. Hikayat Kalilah dan Dimnah, pada awal sekali diterjemahkan ke dalam bahasa Tibet. Tapi sekarang tak ada lagi buku yang cukup berisi semua cerita itu. Hanya sebagian saja daripada cerita-cerita masih tersua sekarang dalam bahasa itu. Lalu, Banyak orang yang mengira bahwa kareya tersebut sudah diterjemahkan ke dalam bahasa lain.

Disebabkan jangka waktu yang lama sehingga karya kitab dalam bahasa tersebut hilang tidak diketemukan. Terjemahan ke Bahasa Parsi Tua 4. Ketika abad ke-6 Masehi, ada seorang raja yang memimpin Persi, yang bernama Anusyirwan.

Ia adalah seorang yang senang akan ilmu pengetahuan sehingga ia menjadi masyhur karena hal tersebut. Saat Ia mendengar bahwa ada sebuah karya kitab yang menarik dan terkenal di negeri India yang kitab itu dijaga baik oleh rajanya, akhirnya Ia mengutus Barzuwih seorang dokter istana sekaligus orang kepercayaannya.

Baginda raja untuk mengambil kitab tersebut dan menerjemahkannya ke Bahasa Parsi. Akhirnya rencana itu berhasil. Begitulah kronologis hikayat tersebut ke dalam bahasa Parsi. Terjemahan ke Bahasa Suryani 6. Pada awalnya banyak orang yang menyangka bahwa karya tersebut sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Namun kenyataaannya tidak demikian.

Salinan itu ternyata diterjemahkan ke dalam bahasa Suryani, kira pada tahun M, oleh seorang pendeta Kristen. Penyalinan itu terbukti, dengan dinamai Qalilaj dan Damnaj. Boleh jadi demikianlah hikayat itu dinamai oleh penerjemah ke bahasa Parsi, dan penyalin ke bahasa Arab yang kemudian mengubahnya jadi Kalilah dan Dimnah.

Orang pandai-pandai Barat telah memperoleh naskah salinan bahasa Suryani itu, dan telah diterjemahkan ke bahasa terjemahkan ke bahasa Jerman di Leipzig pada tahun yang isinya hanya berisi sepuluh bab saja. Terjemahan ke Bahasa Arab Karya itu juga diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Terjemahan dalam bahasa Arab inilah yang terpenting, karena dapat diterjemahkan ke bahasa Tamil.

Sehingga karangan itu dapat diterjemahkan yang terdiri lima cerita ke dalam bahasa Jawa dan Madura. Dikatakan bahwa dalam bahasa Melayu, ada empat versi yang masyhur. Gonggrijip pada tahun Versi kedua yaitu abad ke, kira-kira pada tahun yang disalin oleh Abdullah bin Abdulkadir Munsyi dari bahasa Tamil yang berjudul Hikayat Pancatanderan.

Para Sejarawan mengadakan penelitian terhadap versi abad ke M. Sebagaimana yang sudah disebutkan, kisah atau cerita yang masih tersisa dalam karya Baidaba adalah berjumlah lima buah cerita pokok, sedangkan yang lainnya merupakan cerita-cerita sisipan Ibnu al-Muqoffah di dalam karya itu. Kelima cerita-cerita utama tersebut adalah sebagai berikut: Rangka pertama: Diceritakan seekor srigala bernama Dimnah memutuskan tali persahabatan antara Singa dan lembu Syatrabah.

Temanya mengenai bahaya fitnah dan hasutan yang berjung pada pembunuhan dengan motif politk. Rangka kedua: Kebersalahan kelompok dhuafa yang berhasil mengalahkan musuh yang kuat disebabkan mampu menghimpun solidaritas Rangka ketiga: menceritakan persoalan yang menyangkut seluk-beluk politik dan siasat dalam peperangan Rangka keempat: Menceritkan bagaimana orang yang bodoh terpedaya oleh perkataan yang halus dan bujuk rayu.

Rangka kelima: Menceritkan bahaya dari orang yang kurang pertimbangan dan suka tergopoh-gopoh dalam melakukan sesuatu. Pada cerita-cerita pokok tersebut terdapat cerita-cerita sisipan dari tulisa Ibnu al-Muqoffah yang berjumlah dua belas dan cerita sisipan tersebut menyampaikan pesan moral untuk melengkapi cerita pokoknya. Inventarisasi, Deskripsi, dan Isi Ringkas Kitab Kalilah dan Dimnah telah diterjemah ke dalam bahasa Melayau dengan aksara Arab ini diduga merupakan terjemahan yang pertama ke dalam bahasa Melayu.

Dugaan itu di dadasari kepada lembaga yang menjadi sponsor penterjemhan yaitu Alegmeen Secretari yang merupakan lembaga ilmiah Zaman Belanda yang eksis pada abad ke Di samping itu, juga ditemukan naskah terjemahan di Perputakaan nasional RI dalam bahasa Melayu namun dengan aksara laitn.

Akan tetapi, naskah ini sudah sangat rusak dan sulit dibaca yang mungkin disebabkan karena tidak terpeliharanya dengan baik. Terjemahan yang lain adalah terjemahan oleh Ismail Djamil yang diterbitkan oleh Balai Pustaka, dan terjemahan Ismail Djamil ini dianggap terjemahan yang sangat dekat dengan teks aslinya yang berbahasa Arab.

Pemilik naskah disebutkan pada halaman pertama adalah Governemeen Belanda yang berkantor di Algemeen Secrretary di Batavia. Kitab ini merupakan kitab kategori sastra dengan bentuk cerita berbingkai dalam uraian prosa. Dari bahasa Arab inilah kemudian diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa termasuk bahasa Melayu. Dalam kitab ini tidak ditemukan tahun penterjemahan.

Adapun jenis kertasnya adalah kertas eropa, namun tanpa ada cap kertas.

JUSTICE SRIKRISHNA COMMITTEE REPORT ON MUMBAI RIOTS PDF

Kalilah and Dimnah

Ag Dalam kehidupan manusia, kisah-kisah menempati posisi yang unik. Kisah tidak hanya mencerminkan fakta yag terjadi dalam kehidupan manusia tetapi juga mengkomunikasikan tentang sesuatu tentang mereka, pengalaman mereka, persepsi mereka serta pandangan mereka tentang dunia ini. Bahkan, akhir kehidupan mereka adalah kisah yang akan menjadi cerita bagi generasi berikutnya. Kisah, cerita, ataupun sebagian orang menyamakannya dengan dongeng, menjadi peralatan yang cukup ampuh dalam rangka mengajak orang untuk mengikuti nilai tertentu. Dengan kisah orang tidak merasa digurui untuk mengikuti sebuah nilai, terutama sekali nilai-nilai religius. Pentingnya kisah dalam wacana pendidikan sufi melahirkan mutiara-mutiara kisah yang tak terkira jumlahnya. Pendahuluan Kisah adalah gambaran dan reflekasi kehidupan umat manusia.

AVERMEDIA SPB350 PDF

KALILAH WA-DIMNAH (known also as Fables of Bidpai):

He, along with his moralizing sidekick named Karataka, conspire to break up alliances and friendships of the lion king. A series of fables describe the conspiracies and causes that lead to close and inseparable friends breaking up. It is a collection of adventures of four characters: a crow scavenger, not a predator, airborne habits , a mouse tiny, underground habits , a turtle slow, water habits and a deer a grazing animal viewed by other animals as prey, land habits. The overall focus of the book is the reverse of the first book.

ATLANTE DI ANATOMIA UMANA SOBOTTA PDF

Kalīlah wa Dimnah

Book of Indian fables which has been translated into most of the languages of the Old World. It appears to have been composed in India, about C. It was translated into Pahlavi about , and thence traveled westward through Arabic sources. According to Abraham ibn Ezra, quoted by Steinschneider "Z.

Related Articles